22 Oktober 2010

THE UN MEDAL TO 1362 INDONESIAN OFFICERS AND SOLDIERS


The UNIFIL Force Commander, Major General Alberto Asarta, encouraged the concerned parties to support the peace that the UNIFIL was committed to implement on a long term, assuring to the people of the south that the UNIFIL is decided to give its best to provide peace and stability in the Lebanese south. He also mentioned that: “our role as peacekeepers is limited to the support of the peace that was approved by all the parties”, mentioning that the Lebanese Armed Forces and the UNIFIL had already accomplished an obvious development in implementing the principal points of the UN Security Council Resolution 1701, but still ,many requirements that are needed to be done and the UNIFIL will try hard to oppose the challenges that will face it.

Asarta’s speech came on the occasion of mastering the distribution of UN medals of peace service, under Bam Ki moon, to 1326 Indonesian officer and soldier, in the Indonesian battalion, Adshit Al-Kusseir, as a symbol of appreciation to their great participation in implementing the UNIFIL mandate, under the presence of the Indonesian Charge d’Affaires in Beirut, Raden Ahmad Arif, the UNIFIL Sector East Commanding Officer, Brigadier General Jose Medina Fernandez, the Assistant of the LAF 9th brigade Chief, Major General Gebrael, the Chief Liaison Section in UNIFIL, the French Colonel, Sinion, Commanding Officer of the Indonesian Contingent, Colonel Restu Widyantoro, Commanding officers of other Battalions, Liaison Officers of LAF, Mayors and Mokhtars of the area.

After the entrance of the VAB that carried the soldiers, where they formed up in rows in front of their Garuda, the anthems of UNIFIL, Lebanon and Indonesia were played, while the flags were raised.

The seven units of the Indonesian force performed their parade, and General Asarta, along with the charge d’affaires, Colonel Sinion, and Major General Gebrael gave the UN medal to the peacekeepers, where Asarta said: "I am honored to attach the medal to 1326 Indonesia peacekeepers, the medal of UN which is a symbol of appreciation of what you have deserved due to your efforts in keeping and enhancing peace and stability in the south of Lebanon”.

General Asarta who extended the deep greetings on the occasion of the 65th anniversary of the Indonesian National Defense Forces, praised the role of the Indonesian Battalion serving in UNIFIL since 2006, where the Indonesian peacekeepers were great at executing all heir missions with professionalism and dedication in serving, were it the infantry, or the general support unit in the UN HQ, the UN MP in UNIFIL Sector East, the medical team, or even those serving in the HQ or Sector East, including all the practical activities of patrolling, static points along the blue line, and other hot spot areas.

Asarta mentioned that the support unit had played an important role in protecting the HQ building in Naqura, and equally, the Indonesian Military police played a great role in organizing the traffic in Sector East and keeping the discipline among the UNIFIL employees. Adding to those, many activities to enhance the relation between the UNIFIL and the locals through the CIMIC Unit, and where computer and language sessions were held, in addition to medical assistance and the special activity SMART CAR where they were able to share with the kids of the area many educational and entertaining activities.

In the end, there was a parade performed by the soldiers of the battalion in Sukarno Base, where later that day, General Asarta cut the cake, accompanied by Colonel Widyantoro, followed by a reception lunch.

18 Juli 2010

DANCON MARCH

Tanggal 17 Juli 2010 pagi kemarin adalah pagi yang indah ketika lebih dari 300 personel UNIFIL baik sipil maupun militer berkumpul bersama di pelataran Danlog Coy UNIFIL Camp Naqoura. Suasana terasa sungguh ceria diiringi dengan semangat yang sangat tinggi dari para peserta yang akan melaksanakan kegiatan DANCON March.

DANCON March merupakan wahana yang sangat baik untuk mencoba sejauh mana kekuatan serta ketahanan kita dalam melakukan march
atau jalan kaki. Kegiatan ini menempuh jarak antara 20-25 km  menyusuri rute dan medan yang naik turun serta melalui jalan-jalan utama maupun jalan yang jarang dilalui oleh kendaraan. Semua peserta militer mengenakan pakaian seragam lapangan serta membawa beban seberat 10 kg dan untuk peserta sipil diperkenankan memakai pakaian bebas tetapi tetap harus membawa beban 10 kg.

DANCON March telah menjadi tradisi sejak tahun 1972 dimana saat itu kegiatan ini diadakan pertama kali oleh Kontingen Denmark yang melaksanakan misi PBB di Cyprus (UNFICYP). Selanjutnya didalam setiap misi PBB Kontingen Denmark selalu mengadakan kegiatan DANCON March.

DANCON sendiri adalah kependekan dari DANISH CONTINGENT  yang kalau kita artikan dalam bahasa Indonesia sama dengan Kontingen Bangsa Denmark atau singkatnya kita sebut Kontingen Denmark, walaupun demikian tidak berarti kegiatan ini hanya terbatas untuk diikuti oleh orang-orang Denmark saja melainkan semua personel dari negara-negara yang tergabung dalam misi PBB dimana Kontingen Denmark mengadakan kegiatan ini bisa berpartisipasi didalamnya baik personel sipil maupun militer.

Di Lebanon sendiri dalam misi UNIFIL sudah dua kali diselenggarakan kegiatan DANCON March oleh Kontingen Denmark, yang pertama pada musim dingin yang lalu bulan Februari 2010 oleh Kontingen Denmark I dan yang kedua dilaksanakan pada bulan Juli 2010 bertepatan dengan musim panas. Kegiatan ini sengaja diadakan pada dua musim tersebut selain karena masa tugas pasukan Denmark dalam misi PBB hanya 6 bulan sehingga setiap kontingen menyelanggrakan satu kali kegiatan, juga dalam rangka menguji kemampuan fisik perorangan didalam suhu udara yang ekstrim. Seperti kita ketahui di negara-negara yang beriklim sub-tropika memiliki empat musim tidak seperti di negara kita tercinta, Indonesia, yang memiliki dua musim dan tidak memiliki suhu yang ekstrim, sehingga bagi personel UN yang berasal dari negara-negara tropis merupakan suatu tantangan tersendiri dalam mengikuti kegiatan ini guna menguji sejauh mana ketahan fisik dan mental kita. 

Rute perjalanan yang direncanakan oleh panitia mengelilingi Naqoura Camp, start dimulai pukul 08.00 LT didepan pelataran Danlog Coy selanjutnya berjalan menyusuri pantai sambil menikmati pemandangan yang indah diringi deburan ombak laut Mediterania sampai di check point pertama dan kembali lagi ke titik start sejauh 5 km, selanjutnya bergerak menuju New Land mengelilingi compound-compound Satgas UNIFIL sejauh 5 km, di route ini terdapat dua check point, kemudian setelah check point ketiga berjalan lagi menyusuri route yang sama namun dengan kondisi cuaca yang sudah sangat jauh berbeda karena saat putaran kedua rata-rata suhu udara mencapai 38 derajat celcius pada saat pelaksanaan DANCON March musim panas ini, disinilah mulai terlihat ketahanan fisik dan mental para peserta. Setelah menyelesaikan 20 km, masih menyisakan route terakhir sepanjang 1,5 km menuju finis mengitari Old Land, sesampai digaris finis langsung disambut oleh panitia untuk pengecekan beban terakhir sehingga dinyatakan sah atau tidak sah untuk mendapatkan sebuah sertifikat dan Medali Penghargaan dari DANCON.

penyelenggaraan kegiatan ini diorganisir dan dikendalaikan dengan sangat baik sehingga dirasakan oleh para peserta sangat menyenangkan meskipun medan dan cuaca yang dirasakan cukup berat bagi orang-orang asia tenggara tetapi karena panitia menyiapkan cukup air dan buah-buahan dibeberapa check point juga tentunya pelayanan kesehatan yang senantiasa siap di check point selain itu terus berkeliling sepanjang rute sehingga senantiasa siap memberikan pertolongan bagi para peserta yang mengalami ganguuan kesehatan.

Sepanjang perjalanan kegiatan ini terlihat penuh dengan senyum para peserta juga pandangan mata yang bercahaya penuh antusias mengikuti kegiatan ini (walaupun ada beberapa diantara mereka yang terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan atas saran tim medis). Banyak hubungan persahabatan dijalin selama event ini walaupun mereka berasal dari negara-negara yang berbeda tetapi rasa kebersamaan yang dirasakan menepis semua perbedaan. Jika seseorang kehabisan air, selalu ada orang lain yang membagi air miliknya untuk rekannya. Paling tidak selama beberapa jam seluruh peserta telah menjadi bagian dari keluarga yang sama.

Kegiatan ditutup dengan social event antara para peserta dengan berbagi cerita serta pengalaman selama melaksanakan kegiatan DANCON March. Sedikitnya ada dua manfaat yang didapat dari kegiatan ini, yang pertama adalah terujinya kesiapan dan ketahan fisik khususnya bagi prajurit dan yang kedua mendapatkan kawan baru untuk menambah wawasan pergaulan khususnya dikancah internasional.


DANCON March Februari 2010 (Winter Season) UNIFIL



DANCON March Juli 2010 (Summer Season) UNIFIL


DANCON March di daerah Operasi lainnya



12 Juli 2010

SPANYOL SANG JUARA BARU

Final Piala Dunia telah selesai digelar malam ini di Afrika Selatan, berjuta pasang mata menyaksikan bagaimana alotnya pertandingan final antara kesebelasan Belanda dengan kesebelasann Spanyol. Kedua kesebelasan menunjukan permainan terbaik mereka untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan mereka namun sampai dua kali 45 menit pertandingan tak ada satupun gol yang dihasilkan oleh kedua kesebelasan, tercatat beberapa kartu kuning dikeluarkan oleh wasit Howard Webb dari Inggris yang memimpin pertandingan untuk kedua kesebelasan, permainan keras ditunjukan oleh kesebelasan Belanda maupun Spanyol namun walupun begitu sportifitas antara kedua kesebelasan tetap terjaga.
Gol tunggal baru tercipta pada babak 15 menit kedua perpanjangan waktu atau menit ke-116 oleh Andres Iniesta yang memanfaatkan umpan terobosan Cesc Fabregas. Spanyol memang pantas menjadi juara dan patut berlega hati karena memang sejak babak awal pertandingan senantiasa menguasai pertandingan walaupun sempat kewalahan menghadapi aksi Arjen Robben pemain sayap Belanda.

Saya sendiri mendukung kesebelasan Spanyol sejak mereka lolos kebabak delapan besar, bukan karena saya hidup di lingkungan orang Spanyol yang selalu men-support pekerjaan saya atau karena Belanda pernah menjajah negara kita selama 350 tahun, semua itu bukan alasan. Saya mendukung Spanyol karena mulai tertarik dan mengikuti sepak terjang mereka selama Piala Dunia serta mencari referensi lain dari ulasan-ulasan para ahli strategi baik dari praktisi olah raga, sipil maupun militer termasuk mempedomani yang diungkapan oleh Presiden Republik Indonesia bapak Susilo Bambang Yudhoyono sepeti dirilis dalam Detik.com bahwa Spanyol di lini depan, tengah dan belakang sama kuat. Spanyol juga melakukan segala sesuatunya secara terpadu tetapi Belanda lini depannya mungkin kuat tetapi di lini tengah dan belakang mereka tidak sekuat pemain depannya sehingga secara teori, Spanyol memang lebih unggul satu klik daripada Belanda.

Ajang Piala Dunia Sepak Bola selain menanamkan rasa sportifitas kepada pemain dan supporter juga dapat digunakan sebagai wahana untuk menanamkan rasa nasionalisme atau kebangsaan kepada pemain itu sendiri maupun para supporternya seperti yang terlihat di Lebanon Selatan dimana para prajurit Spanyol mulai dari Soldado atau Prajurit Dua sampai Jenderal mereka menyediakan waktu khusus untuk memberi dukugan kepada kesebelasan negara mereka namun bukan berarti para prajurit dilepas begitu saja mencari tempat untuk menyaksikan kesebelasan kebanggaan mereka belaga dalam final Piala Dunia. Sejak H-2 final Piala Dunia, CSS Unit bekerja sama dengan UEABA telah merencanakan dan menyiapkan acara Nonton Bareng yang digelas di lapangan parade Seceast HQ menggunakan fasilitas layar lebar dan LCD Projector mirip pertunjukan layar tancap waktu saya kecil. Tidak ketinggalan juga mereka mengundang stasiun televisi MTV serta media sura kabar lokal untuk meliput kegiatan ini sehingga paling tidak akan diketahui bahwa ada banyak fans serta supporter Spanyol di Lebanon Selatan.

Semoga perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dapat menjadi inpirasi bagi bangsa Indonesia untuk membangun persepakbolaan di negara kita tercinta Indonesia.