27 Juni 2011

TNI SEBAGAI TENTARA RAKYAT


Salah satu jati diri TNI adalah Tentara Rakyat. Secara sederhana makna Tentara Rakyat adalah tentara yang berasal dari rakyat dan berjuang untuk rakyat. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI menjelaskan bahwa Tentara Rakyat adalah tentara yang berasal dari rakyat bersenjata yang berjuang melawan penjajah untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan pada perang tahun 1945-1949 dengan semboyan "merdeka atau mati".

Melalui proses panjang akhirnya terbentuklah organisasi yang bernama TNI dimana para anggotanya berasal dari rakyat. Mengingat TNI berasal dari rakyat, maka TNI harus berjuang untuk kepentingan rakyat, dicintai rakyat dan menjadi milik rakyat.

Bagaimana para prajurit TNI dapat menjadi prajurit rakyat ? Jawabannya sangat mudah karena sudah ada pedoman yang mengaturnya yaitu dalam 8 Wajib TNI sebagai berikut :
  1. Bersikap ramah tamah terhadap rakyat.
  2. Bersikap sopan santun terhadap rakyat.
  3. Menjunjung tinggi kehormatan wanita.
  4. Menjaga kehormatan diri dimuka umum.
  5. Senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya.
  6. Tidak sekali-kali merugikan rakyat.
  7. Tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat.
  8. Menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat disekelilingnya.
Inilah sebenarnya esensi dan makna tentara rakyat. Bila 8 Wajib TNI ini dapat dilaksanakan maka disitulah sebenarnya TNI memebuktikan diri sebagai tentara rakyat. Bagaimana mewujudkan 8 Wajib TNI itu sehingga TNI dapat disebut sebagai tentara rakyat ? Hal ini tidaklah sulit, yaitu dengan cara menjadi prajurit yang taat pada aturan, taat atasan, disiplin, tidak arogan, tidak merasa super, tidak merasa paling berkuasa, tidak sok jago, tidak emosional dan tentunya harus sabar. Tentara rakyat akan selalu ingat bahwa dirinya berasal dari rakyat sehingga ia harus berbuat baik kepada rakyat, mengerti keadaan rakyat, membantu kesulitan rakyat dan tentunya sabar terhadap rakyat.

Tidak dapat dipungkiri di era reformasi seperti saat ini terdapat beberapa warga masyarakat yang sering keliru memaknai demokrasi sebagai suatu kebebasan tanpa batas. Akibatnya sebagian warga masyarakat merasa bebas untuk berbuat, berbicara sekehendak hatinya atau berbuat tanpa aturan. Menyikapi hal tersebut maka setiap parajurit TNI harus bersikap sabar, selalu ingat dan taat pada aturan. Dengan sikap sabar, taat pada aturan dan tidak emosional serta mau mendudukan dirinya sebagai tentara rakyat maka TNI akan terhindar dari permasalahan yang tidak diinginkan. TNI tidak perlu banyak bicara untuk memperoleh pengakuan sebagai tentara rakyat. Dengan perbuatan dan contoh yang baik dari setiap prajurit TNI, apapun pangkat dan kedudukannya akan menjadi catatan tersendiri di hati rakyat. Ingat, Tentara Rakyat harus dicintai oleh rakyat dan benar-benar diakui sebagai milik rakyat.

MENYIKAPI ADANYA TUNJANGAN KINERJA




Kita patut bersyukur kepada Allah SWt karena diawal tahun 2011 Pemerintah telah memberikan tunjangan kinerja sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI/POLRI beserta keluarganya. Pemberian tunjangan kinerja tersebut semudah membalikan telapak tangan namun telah melaui proses yang cukup panjang dan berliku yang akhirnya dapat membuahkan hasil. Perjuangan tersebut dilakukan guna lebih meningkatkan gairah dan semngaat prajurit dalam berkarya untuk berbuat yang terbaik bagi nusa bangsa dan negara sesuai bidang tugas pengabdiannya masing-masing. Tunjangan kinerja yang diberikan merupakan bagian dari reformasi birokrasi serta sebagai solusi dalam upaya meningkatkan kualitas kinerja Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil khususnya TNI AD.

Dengan telah diberikannya tunjangan kinerja tersebut diharapkan apa yang menjadi tuntutan dalam reformasi birokrasi tersebut jangan sampai tidak tercapai karena tidak menutup kemungkinan pemberian tunjangan kinerja ini dapat ditinjau kembali jika tuntutan peningkatan kinerja bagi setiap Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI AD belum terlaksana dengan baik sesuai harapan.

Untuk itu, diharapkan para Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI AD dapat menyikapi dengan baik adanya tunjangan kinerja ini dengan meningkatkan gairah kerja dan semangat serta disiplin yang tinggi dalam berkarya dengan penuh kesadaran mau merubah diri menjadi lebih baik dan lebih bertanggung dari sebelumnya terhadap tugas dan pengabdian yang diemban.

Oleh karena itu, agar pemberian tunjangan kinerja ini dapat terus berjalan sesuai dengan harapan reformasi birokrasi, maka ada hal-hal yang dapat dipedomani oleh setiap individu Prajurit maupun Pegawai Negeri Sipil sebagai berikut :
  1. Tingkatkan etos kerja dan produktifitas kerja yang tinggi dalam setiap pelaksanaan tugas sesuai dengan harapan reformasi birokrasi.
  2. Hindari perilaku boros, konsumtif dan penyimpangan-penyimpangan serta pelanggaran-pelanggaran yang dapat merugikan diri sendiri maupun satuan.
  3. Para Komandan satuan dapat memberikan bimbingan dan arahan kepada anggotanya, sehingga mampu mengelola hidup secara baik dan benar serta mengatur masa depan secara terarah, terukur dan terkendali.
  4. Hindari perilaku koruptif sekecil apapun seperti uang lelah, uang dengar, uang rokok, uang konpensasi dan lain-lain karena ini merupakan embrio korupsi yang dapat berkembang menjadi budaya buruk.
  5. Laksanakan semua kegiatan administrasi secara tertib dengan memegang prinsip ketelitian dan keteraturan sesuai ketentuan yang berlaku.
Demikian sedikit ulasan megenai bagaimana menyikapi adanya tunjangan kinerja yang diberikan Pemerintah bagi Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil.

22 Oktober 2010

THE UN MEDAL TO 1362 INDONESIAN OFFICERS AND SOLDIERS


The UNIFIL Force Commander, Major General Alberto Asarta, encouraged the concerned parties to support the peace that the UNIFIL was committed to implement on a long term, assuring to the people of the south that the UNIFIL is decided to give its best to provide peace and stability in the Lebanese south. He also mentioned that: “our role as peacekeepers is limited to the support of the peace that was approved by all the parties”, mentioning that the Lebanese Armed Forces and the UNIFIL had already accomplished an obvious development in implementing the principal points of the UN Security Council Resolution 1701, but still ,many requirements that are needed to be done and the UNIFIL will try hard to oppose the challenges that will face it.

Asarta’s speech came on the occasion of mastering the distribution of UN medals of peace service, under Bam Ki moon, to 1326 Indonesian officer and soldier, in the Indonesian battalion, Adshit Al-Kusseir, as a symbol of appreciation to their great participation in implementing the UNIFIL mandate, under the presence of the Indonesian Charge d’Affaires in Beirut, Raden Ahmad Arif, the UNIFIL Sector East Commanding Officer, Brigadier General Jose Medina Fernandez, the Assistant of the LAF 9th brigade Chief, Major General Gebrael, the Chief Liaison Section in UNIFIL, the French Colonel, Sinion, Commanding Officer of the Indonesian Contingent, Colonel Restu Widyantoro, Commanding officers of other Battalions, Liaison Officers of LAF, Mayors and Mokhtars of the area.

After the entrance of the VAB that carried the soldiers, where they formed up in rows in front of their Garuda, the anthems of UNIFIL, Lebanon and Indonesia were played, while the flags were raised.

The seven units of the Indonesian force performed their parade, and General Asarta, along with the charge d’affaires, Colonel Sinion, and Major General Gebrael gave the UN medal to the peacekeepers, where Asarta said: "I am honored to attach the medal to 1326 Indonesia peacekeepers, the medal of UN which is a symbol of appreciation of what you have deserved due to your efforts in keeping and enhancing peace and stability in the south of Lebanon”.

General Asarta who extended the deep greetings on the occasion of the 65th anniversary of the Indonesian National Defense Forces, praised the role of the Indonesian Battalion serving in UNIFIL since 2006, where the Indonesian peacekeepers were great at executing all heir missions with professionalism and dedication in serving, were it the infantry, or the general support unit in the UN HQ, the UN MP in UNIFIL Sector East, the medical team, or even those serving in the HQ or Sector East, including all the practical activities of patrolling, static points along the blue line, and other hot spot areas.

Asarta mentioned that the support unit had played an important role in protecting the HQ building in Naqura, and equally, the Indonesian Military police played a great role in organizing the traffic in Sector East and keeping the discipline among the UNIFIL employees. Adding to those, many activities to enhance the relation between the UNIFIL and the locals through the CIMIC Unit, and where computer and language sessions were held, in addition to medical assistance and the special activity SMART CAR where they were able to share with the kids of the area many educational and entertaining activities.

In the end, there was a parade performed by the soldiers of the battalion in Sukarno Base, where later that day, General Asarta cut the cake, accompanied by Colonel Widyantoro, followed by a reception lunch.